Pekan ketiga

Paruh kedua semester musim semi sudah berjalan dua minggu. Pekan ketiga setelah Malmö University menutup pintunya demi memutus rantai penularan virus CoVid-19. Keadaan masih lembam sejak palu itu diketuk, tidak ada perubahan yang berarti dalam tiga minggu belakangan ini. Kuliah dan bimbingan skripsi masih terjebak di dunia maya, tawa dan canda terbatasi kabel fiber dan layar monitor. Jam di dinding masih berdetik dan jarumnya bergerak lebih pelan dari biasa.

Media sosial masih bergejolak, dipenuhi onak ketakutan dan ombak kecemasan. Ada amarah yang terlepaskan dari jemari mereka yang tak dapat menerima hilangnya kontrol atas lingkungan sekitar. Ada rangkaian kebohongan yang dialirkan bagai minyak tanah membesarkan api kekacauan. Ada amukan dedemit dan setan baru yang dilahirkan oleh benak dan imajinasi manusia, lebih keji dan lebih jahat dari mereka yang berasal dari alam barzah. Mungkin para makhluk halus itu pun menghilang sementara, bersembunyi takut terimbas dedemit yang dilahirkan dari jemari yang menari di atas papan kunci. Atau mereka hanya duduk menepi, menyaksikan anak cucu Adam dibakar api dari dalam diri sendiri.

Aku lelah.

Aku gelisah.

Dan aku mencoba berlari.
jauh ke masa lalu

Aku mencari lagu-lagu dari masa jauh sebelum orang tuaku dilahirkan. Musik-musik tua yang sederhana, lugu tanpa polesan teknologi. Melodi yang masih jujur. Denting yang perlahan membawaku kembali ke senjakala di atas lincak bambu. Teh hangat dalam cangkir kaleng hijau blirik dan semilir angin membawa pelan suara adzan dari kejauhan. Tetangga berteriak keras memanggil teman bermainku pulang, "BALII!! CANDIKALA!!!" Derit bambu di bawah pantatku ritmis. Semburat kuning dari bohlam rumah tetangga yang mulai menyala. Dari kiri, meruap bau kayu di tengah nyala api memeluk dasar ceret yang hangus dan hitam. Dari kanan, bau khas kambing dan rumput basah menyeruak.


Lima menit nostalgia menyelimutiku. Memori masa kecil menyelamatkan mentalku, menekuk tubuhku melingkar semu.

Lalu air mata meleleh bersama akhir lagu.

Air mata.

Akhir.

...
..
.

edit

No comments:

Post a Comment