Keheningan
Thursday, 7 May 2020
Paskah sudah berlalu, tapi playlist Spotify-ku masih belum beranjak dari lagu-lagu semacam Veni, Creator Spiritus. Entahlah, mungkin 'lagu' pun bukan kata yang tepat untuk digunakan di sini. Mungkin resitasi dan litani ritmis lebih pas untuk mendefinisikan mereka.
Musik klasik yang penuh energi dan dinamika belakangan ini justru membuatku gelisah. Denting piano lembut yang biasanya menenangkan jiwa kini terasa bagai godam yang membentur-bentur di dalam jantung. Hanya resitasi ritmis ini yang bisa membawaku ke dalam ketenangan.
Entahlah, mungkin otakku mengasosiasikan resitasi semacam ini dengan gereja tua yang kosong di senjakala terpeluk kerlip lilin di sana dan di sini. Atau biara di puncak gunung. Tempat-tempat di mana keheningan dihargai dan langkah mundur dari dunia dianjurkan. Di sana aku bisa menyepi memeriksa hati dan bebas menangis menjerit kepada Ia yang di atas sana. Hening dan sepi yang membuat perbincangan kami semakin intim, semakin personal. Tak terbatas ritual atau waktu wajib.
Kesunyian yang membebaskan, kala air mata menitik tanpa penghakiman. Ketika ketiadaan yang menyelimuti mengasah indra dan pelukan ilahi mulai terasa menekan pelan di seluruh raga. Entahlah. Aku selalu mencari tempat hening semacam itu, yang terpisah jauh dari ributnya dunia. Situasi saat ini mengharuskan orang memisahkan diri dari dunia, tetapi riuh rendah suaranya justru semakin menggelegar dan bergema di tengah isolasi.
Biarlah musik resitasi ini membawa sejenak keheningan ke dalam benakku.
Musik klasik yang penuh energi dan dinamika belakangan ini justru membuatku gelisah. Denting piano lembut yang biasanya menenangkan jiwa kini terasa bagai godam yang membentur-bentur di dalam jantung. Hanya resitasi ritmis ini yang bisa membawaku ke dalam ketenangan.
Entahlah, mungkin otakku mengasosiasikan resitasi semacam ini dengan gereja tua yang kosong di senjakala terpeluk kerlip lilin di sana dan di sini. Atau biara di puncak gunung. Tempat-tempat di mana keheningan dihargai dan langkah mundur dari dunia dianjurkan. Di sana aku bisa menyepi memeriksa hati dan bebas menangis menjerit kepada Ia yang di atas sana. Hening dan sepi yang membuat perbincangan kami semakin intim, semakin personal. Tak terbatas ritual atau waktu wajib.
Kesunyian yang membebaskan, kala air mata menitik tanpa penghakiman. Ketika ketiadaan yang menyelimuti mengasah indra dan pelukan ilahi mulai terasa menekan pelan di seluruh raga. Entahlah. Aku selalu mencari tempat hening semacam itu, yang terpisah jauh dari ributnya dunia. Situasi saat ini mengharuskan orang memisahkan diri dari dunia, tetapi riuh rendah suaranya justru semakin menggelegar dan bergema di tengah isolasi.
Biarlah musik resitasi ini membawa sejenak keheningan ke dalam benakku.
edit
No comments:
Post a Comment