Trova do Vento que Passa
Tuesday, 2 June 2020
Beberapa hari belakangan ini aku (kembali) tergila-gila mendengarkan Fado, salah satu musik tradisional Portugal. Dari rekomendasi Mario, teman yang juga dosen bahasa Portugis di Macau, aku terdampar di lagu klasik, "Trova do Vento que Passa" - "Kutanyakan pada angin yang berhembus".
Ada kualitas magis dalam Fado, yang membawa nostalgia tapi juga sebuah kebaruan yang asing. Ada memori yang mengalir dari lubuk hati bersamaan dengan petikan gitar dan pita suara yang bergetar. Ada jingga matahari tenggelam yang terkilas. Ada gemericik air di sela-sela kerikil sungai. Ada bau tanah tercium malam. Semua itu datang kembali bersama bahasa yang tak pernah kupahami.
Mario mencoba menerjemahkan lirik lagu ini untukku, dan aku tertunduk semakin sedih. Ada jerit kerinduan akan kampung halaman - yang hilang dan tak akan kembali lagi.
pada angin yang berhembus
kutanyakan kabar negeriku
sang bayu mendesah pilu
tak ada berita, tak ada cerita
pada sungai yang mengalir
kulabuh mimpi indahku
arus kali merenggut angan
meninggalkan nestapa
wahai sungai negeriku
gemah ripah tanah airku
ke mana engkau menuju
tanya tak seorang pun
dedaunan hijau mulai melayu
kabar berita tak kunjung tiba
aku yang dulu rela mati
untukmu kini runtuh layu
Ada kualitas magis dalam Fado, yang membawa nostalgia tapi juga sebuah kebaruan yang asing. Ada memori yang mengalir dari lubuk hati bersamaan dengan petikan gitar dan pita suara yang bergetar. Ada jingga matahari tenggelam yang terkilas. Ada gemericik air di sela-sela kerikil sungai. Ada bau tanah tercium malam. Semua itu datang kembali bersama bahasa yang tak pernah kupahami.
Mario mencoba menerjemahkan lirik lagu ini untukku, dan aku tertunduk semakin sedih. Ada jerit kerinduan akan kampung halaman - yang hilang dan tak akan kembali lagi.
pada angin yang berhembus
kutanyakan kabar negeriku
sang bayu mendesah pilu
tak ada berita, tak ada cerita
pada sungai yang mengalir
kulabuh mimpi indahku
arus kali merenggut angan
meninggalkan nestapa
wahai sungai negeriku
gemah ripah tanah airku
ke mana engkau menuju
tanya tak seorang pun
dedaunan hijau mulai melayu
kabar berita tak kunjung tiba
aku yang dulu rela mati
untukmu kini runtuh layu
edit
No comments:
Post a Comment