Eyang

Eyang kakung meninggal minggu ini di usianya yang ke 94 tahun. Ia yang senantiasa berdiri kokoh di hadapanku kini tumbang dan menyerah di hadapan pelukan sang waktu. Bahu yang lebar dan dada yang bidang tempat masa kecilku bersarang kini sudah menyatu dengan tanah. 

Dan untuk kesekian kalinya, aku merasa bersalah. Aku, cucu tertua yang pernah dibanggakannya, masih menjadi kekecewaan besar. Jalan hidup yang kutempuh membawaku jauh darinya, secara fisik dan secara kepuasan. Hingga aku memutuskan untuk pergi dan memutus kontak demi menghindarkan eyang dan keluarga besar dari noda malu. 

Hingga saat ini 
ketika ia meningggal di kejauhan 
dan tanganku tak mampu memeluk 
untuk terakhir kalinya

Aku, sang eksil atas pilihan sendiri, kini hanya bisa menangis dari jauh dan meratap. Seandainya ini seandainya itu, dari satu andai ke andai lain. Tapi ia telah pergi. Pergi. 

Jauh..... 

edit

No comments:

Post a Comment