Fatamorgana

Sayup-sayup dari headphone-ku terdengar lantunan lagu ”Caledonia”, curahan hati seorang perantau yang merindu kampung halaman. Dan hatiku pun mendadak teriris menjadi dua. 

 

Paruh pertama hatiku merindukan belaian masa lalu. Ia melayang di hembus sepoi nostalgia, dibuai guguran kenangan yang rintik turun dari benak. Arus sungai yang menabrak batu dan kerikil di tengah jalannya. Buah jambu yang ranum memerah menggantung dari dahan pohon. Bebek-bebek yang berbaris dan menebar ketakutan di hati anak kecil yang berlarian hanya dengan singlet dan celana dalam. Riuh suara ibu-ibu yang bertukar cerita di bawah bayang pepohonan sembari menggendong bayi mereka. 

 

Aku rindu. Itu rumah. Itu kampung. Rumpun bambu yang dipenuhi cerita seram. Aku kangen… 

 

Sementara, paruh kedua hatiku menangis perih. Ia tahu betapa berbatu dan berliku jalanan yang telah kulangkahi semenjak itu. Masa lalu hanya tinggal fatamorgana di tengah terik hidup. Waktu yang pernah singgah dan telah berubah. Gambar itu segera menghablur saat kaki perlahan mendekat dan realita segera tersibak. Hanya padang pasir yang tertinggal. 


Aku telah menemukan rumah yang baru berbayar darah dan keringat. Tapi kenapa aku masih menginginkan fatamorgana itu? 


edit

No comments:

Post a Comment