Tahun ini, Paskah seolah mendapatkan makna baru dan menggiring manusia untuk masuk berkontemplasi dalam keheningan dan kesendirian. Tidak ada lagi bangku-bangku gereja yang penuh sesak dan lilin-lilin yang menyala satu persatu di tengah gelapnya misa malam paskah. Tidak ada lagi perarakan besar orang-orang yang melambaikan daun palma. Semua ritual misa yang penuh gerak simbolis dan kilat warna-warni menghilang, tereduksi hanya menyisakan substansi doa dan permenungan.
Di satu sisi, aku senang. Para jemaat akhirnya menerima ide bahwa peribadatan tidak harus selalu terpusat dan dilakukan di dalam gereja atau tempat-tempat suci. Penuhanan agama dan bangunan terkikis oleh hempasan virus CoVid-19. Ada kesadaran yang mulai muncul bahwa Tuhan bisa ditemui di luar bangunan 'suci'. Pemikiran ini yang dahulu membawaku menjauh dari hiruk pikuk gereja yang memuja ritus dan melupakan inti pengajaran. Aku lebih memilih menyepi, berdoa dalam kesepian saat tidak ada orang lain yang melihat. Aku mengundurkan diri dari riuh rendah nyanyi dan parade penuh warna, mundur ke dalam pikiranku sendiri dan berdialog dengan Ia yang ada di atas sana secara pribadi.
Mungkin latar belakang kejawen-ku terlalu kuat hingga aku mengimani apa yang tertulis pada Nag Hamadi.
"The Kingdom of God is inside you and all around you
Not in a mansion of wood and stone

Split a piece of wood and I am there
Lift a stone and you will find me"
Di sisi lain, minggu Paskah ini mengejawantahkan sengsara dan ketakutan Yesus secara nyata ke dalam hidup kita. Ada kesepian yang menusuk hati dari kesendirian dan isolasi. Ada ketakutan eksistensial yang menyeruak, kengerian dan ketidaksiapan akan akhir hidup yang mungkin diam menanti di pojok waktu sana. Dunia ini berubah menjadi Taman Getsemani. Tuguran Kamis Putih yang selama ini simbolis semata berubah menjadi nyata. Kesabaran dan ketegaran manusia diuji, menanti sebuah harapan yang akan muncul setelah yang terburuk datang menjemput. Semua menanti, menyiapkan diri dan menata hati.
Tragis memang melihat Bapa Paus berjalan seorang sendiri berpeluk sunyi di tengah megahnya Katedral St. Petrus, atau imam-iman lain yang berjalan di kosongnya gereja-gereja mereka. Ada kesedihan yang berpijar di sorot pandang mata. Ada suara yang bergetar, tak kuat menghadapi kesendirian dan sepinya permenungan asketis Paskah tahun ini. Banyak yang menghadiri perayaan ini dari jauh, melalui layar kaca, yang merasakan kesepian yang sama. Menapaki Via Dolorosa sendirian sembari memanggul ketakutan. Ada kebangkitan yang menanti tapi maut yang harus dihadapi mengalihkan benak kita.
Jiwaku pun tak luput dari kemuraman. Banyaknya berita-berita negatif dan kabar-kabar yang beredar mencambuki benteng diriku. Kaki yang tadinya kubanggakan karena telah kokoh menopangku selama tahun-tahun penuh derita di masa lalu perlahan tertunduk lemas. Setiap artikel negatif dari media sosial berasa seperti sebuah duri yang menancap dan mencabik dagingku, hari demi hari, bersamaan dengan berjalannya waktu dan tapak hidup yang masih harus dilalui. Atau mungkin beginilah kira-kira yang dirasakan Yesus saat tertatih memanggul salib menuju puncak Kalvari dengan mahkota duri yang menancap di kepala dan terus mengalirkan darah segar ? Saat ia mungkin harus menggertakkan giginya menahan sakit yang datang, semakin berat di setiap cambukan. Dan Ia bertahan dan tetap berjalan.

Hingga kutipan lagu paduan suara tahun laluku perlahan merayap menyapaku, "
Stabat Mater Dolorosa" -
The Sorrowful Mother was standing. Jauh di sana atau mungkin sedekat bisikan di balik telinga, ada Sang Bunda yang menemani dan menguatkan kita, berbagi lara, berbagi asa. Sangat logis mengingat bagian kedua doa "Salam Maria" mulai dilantunkan saat
Black Plague menyerang Eropa.
"Dewi Maria, ibuning Allah
Kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu Dalem
Samangke tuwin mbenjing dumugining pejah
Amin."