Fatamorgana

Sayup-sayup dari headphone-ku terdengar lantunan lagu ”Caledonia”, curahan hati seorang perantau yang merindu kampung halaman. Dan hatiku pun mendadak teriris menjadi dua. 

 

Paruh pertama hatiku merindukan belaian masa lalu. Ia melayang di hembus sepoi nostalgia, dibuai guguran kenangan yang rintik turun dari benak. Arus sungai yang menabrak batu dan kerikil di tengah jalannya. Buah jambu yang ranum memerah menggantung dari dahan pohon. Bebek-bebek yang berbaris dan menebar ketakutan di hati anak kecil yang berlarian hanya dengan singlet dan celana dalam. Riuh suara ibu-ibu yang bertukar cerita di bawah bayang pepohonan sembari menggendong bayi mereka. 

 

Aku rindu. Itu rumah. Itu kampung. Rumpun bambu yang dipenuhi cerita seram. Aku kangen… 

 

Sementara, paruh kedua hatiku menangis perih. Ia tahu betapa berbatu dan berliku jalanan yang telah kulangkahi semenjak itu. Masa lalu hanya tinggal fatamorgana di tengah terik hidup. Waktu yang pernah singgah dan telah berubah. Gambar itu segera menghablur saat kaki perlahan mendekat dan realita segera tersibak. Hanya padang pasir yang tertinggal. 


Aku telah menemukan rumah yang baru berbayar darah dan keringat. Tapi kenapa aku masih menginginkan fatamorgana itu? 

Eyang

Eyang kakung meninggal minggu ini di usianya yang ke 94 tahun. Ia yang senantiasa berdiri kokoh di hadapanku kini tumbang dan menyerah di hadapan pelukan sang waktu. Bahu yang lebar dan dada yang bidang tempat masa kecilku bersarang kini sudah menyatu dengan tanah. 

Dan untuk kesekian kalinya, aku merasa bersalah. Aku, cucu tertua yang pernah dibanggakannya, masih menjadi kekecewaan besar. Jalan hidup yang kutempuh membawaku jauh darinya, secara fisik dan secara kepuasan. Hingga aku memutuskan untuk pergi dan memutus kontak demi menghindarkan eyang dan keluarga besar dari noda malu. 

Hingga saat ini 
ketika ia meningggal di kejauhan 
dan tanganku tak mampu memeluk 
untuk terakhir kalinya

Aku, sang eksil atas pilihan sendiri, kini hanya bisa menangis dari jauh dan meratap. Seandainya ini seandainya itu, dari satu andai ke andai lain. Tapi ia telah pergi. Pergi. 

Jauh..... 

Trova do Vento que Passa

Beberapa hari belakangan ini aku (kembali) tergila-gila mendengarkan Fado, salah satu musik tradisional Portugal. Dari rekomendasi Mario, teman yang juga dosen bahasa Portugis di Macau, aku terdampar di lagu klasik, "Trova do Vento que Passa" - "Kutanyakan pada angin yang berhembus".

Ada kualitas magis dalam Fado, yang membawa nostalgia tapi juga sebuah kebaruan yang asing. Ada memori yang mengalir dari lubuk hati bersamaan dengan petikan gitar dan pita suara yang bergetar. Ada jingga matahari tenggelam yang terkilas. Ada gemericik air di sela-sela kerikil sungai. Ada bau tanah tercium malam. Semua itu datang kembali bersama bahasa yang tak pernah kupahami.

Mario mencoba menerjemahkan lirik lagu ini untukku, dan aku tertunduk semakin sedih. Ada jerit kerinduan akan kampung halaman - yang hilang dan tak akan kembali lagi.


pada angin yang berhembus
kutanyakan kabar negeriku

sang bayu mendesah pilu
tak ada berita, tak ada cerita

pada sungai yang mengalir
kulabuh mimpi indahku

arus kali merenggut angan
meninggalkan nestapa

wahai sungai negeriku
gemah ripah tanah airku

ke mana engkau menuju
tanya tak seorang pun

dedaunan hijau mulai melayu
kabar berita tak kunjung tiba

aku yang dulu rela mati
untukmu kini runtuh layu




Keheningan

Paskah sudah berlalu, tapi playlist Spotify-ku masih belum beranjak dari lagu-lagu semacam Veni, Creator Spiritus. Entahlah, mungkin 'lagu' pun bukan kata yang tepat untuk digunakan di sini. Mungkin resitasi dan litani ritmis lebih pas untuk mendefinisikan mereka.

Musik klasik yang penuh energi dan dinamika belakangan ini justru membuatku gelisah. Denting piano lembut yang biasanya menenangkan jiwa kini terasa bagai godam yang membentur-bentur di dalam jantung. Hanya resitasi ritmis ini yang bisa membawaku ke dalam ketenangan.

Entahlah, mungkin otakku mengasosiasikan resitasi semacam ini dengan gereja tua yang kosong di senjakala terpeluk kerlip lilin di sana dan di sini. Atau biara di puncak gunung. Tempat-tempat di mana keheningan dihargai dan langkah mundur dari dunia dianjurkan. Di sana aku bisa menyepi memeriksa hati dan bebas menangis menjerit kepada Ia yang di atas sana. Hening dan sepi yang membuat perbincangan kami semakin intim, semakin personal. Tak terbatas ritual atau waktu wajib.

Kesunyian yang membebaskan, kala air mata menitik tanpa penghakiman. Ketika ketiadaan yang menyelimuti mengasah indra dan pelukan ilahi mulai terasa menekan pelan di seluruh raga. Entahlah. Aku selalu mencari tempat hening semacam itu, yang terpisah jauh dari ributnya dunia. Situasi saat ini mengharuskan orang memisahkan diri dari dunia, tetapi riuh rendah suaranya justru semakin menggelegar dan bergema di tengah isolasi.

Biarlah musik resitasi ini membawa sejenak keheningan ke dalam benakku. 

Paskah

Tahun ini, Paskah seolah mendapatkan makna baru dan menggiring manusia untuk masuk berkontemplasi dalam keheningan dan kesendirian. Tidak ada lagi bangku-bangku gereja yang penuh sesak dan lilin-lilin yang menyala satu persatu di tengah gelapnya misa malam paskah. Tidak ada lagi perarakan besar orang-orang yang melambaikan daun palma. Semua ritual misa yang penuh gerak simbolis dan kilat warna-warni menghilang, tereduksi hanya menyisakan substansi doa dan permenungan.

Di satu sisi, aku senang. Para jemaat akhirnya menerima ide bahwa peribadatan tidak harus selalu terpusat dan dilakukan di dalam gereja atau tempat-tempat suci. Penuhanan agama dan bangunan terkikis oleh hempasan virus CoVid-19. Ada kesadaran yang mulai muncul bahwa Tuhan bisa ditemui di luar bangunan 'suci'. Pemikiran ini yang dahulu membawaku menjauh dari hiruk pikuk gereja yang memuja ritus dan melupakan inti pengajaran. Aku lebih memilih menyepi, berdoa dalam kesepian saat tidak ada orang lain yang melihat. Aku mengundurkan diri dari riuh rendah nyanyi dan parade penuh warna, mundur ke dalam pikiranku sendiri dan berdialog dengan Ia yang ada di atas sana secara pribadi. 

Mungkin latar belakang kejawen-ku terlalu kuat hingga aku mengimani apa yang tertulis pada Nag Hamadi. 

     "The Kingdom of God is inside you and all around you 
      Not in a mansion of wood and stone 
      Split a piece of wood and I am there
      Lift a stone and you will find me"

Di sisi lain, minggu Paskah ini mengejawantahkan sengsara dan ketakutan Yesus secara nyata ke dalam hidup kita. Ada kesepian yang menusuk hati dari kesendirian dan isolasi. Ada ketakutan eksistensial yang menyeruak, kengerian dan ketidaksiapan akan akhir hidup yang mungkin diam menanti di pojok waktu sana. Dunia ini berubah menjadi Taman Getsemani. Tuguran Kamis Putih yang selama ini simbolis semata berubah menjadi nyata. Kesabaran dan ketegaran manusia diuji, menanti sebuah harapan yang akan muncul setelah yang terburuk datang menjemput. Semua menanti, menyiapkan diri dan menata hati. 

Tragis memang melihat Bapa Paus berjalan seorang sendiri berpeluk sunyi di tengah megahnya Katedral St. Petrus, atau imam-iman lain yang berjalan di kosongnya gereja-gereja mereka. Ada kesedihan yang berpijar di sorot pandang mata. Ada suara yang bergetar, tak kuat menghadapi kesendirian dan sepinya permenungan asketis Paskah tahun ini. Banyak yang menghadiri perayaan ini dari jauh, melalui layar kaca, yang merasakan kesepian yang sama. Menapaki Via Dolorosa sendirian sembari memanggul ketakutan. Ada kebangkitan yang menanti tapi maut yang harus dihadapi mengalihkan benak kita. 

Jiwaku pun tak luput dari kemuraman. Banyaknya berita-berita negatif dan kabar-kabar yang beredar mencambuki benteng diriku. Kaki yang tadinya kubanggakan karena telah kokoh menopangku selama tahun-tahun penuh derita di masa lalu perlahan tertunduk lemas. Setiap artikel negatif dari media sosial berasa seperti sebuah duri yang menancap dan mencabik dagingku, hari demi hari, bersamaan dengan berjalannya waktu dan tapak hidup yang masih harus dilalui. Atau mungkin beginilah kira-kira yang dirasakan Yesus saat tertatih memanggul salib menuju puncak Kalvari dengan mahkota duri yang menancap di kepala dan terus mengalirkan darah segar ? Saat ia mungkin harus menggertakkan giginya menahan sakit yang datang, semakin berat di setiap cambukan. Dan Ia bertahan dan tetap berjalan. 

Hingga kutipan lagu paduan suara tahun laluku perlahan merayap menyapaku, "Stabat Mater Dolorosa" - The Sorrowful Mother was standing. Jauh di sana atau mungkin sedekat bisikan di balik telinga, ada Sang Bunda yang menemani dan menguatkan kita, berbagi lara, berbagi asa. Sangat logis mengingat bagian kedua doa "Salam Maria" mulai dilantunkan saat Black Plague menyerang Eropa. 

"Dewi Maria, ibuning Allah
Kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu Dalem 
Samangke tuwin mbenjing dumugining pejah
Amin."

Pekan ketiga

Paruh kedua semester musim semi sudah berjalan dua minggu. Pekan ketiga setelah Malmö University menutup pintunya demi memutus rantai penularan virus CoVid-19. Keadaan masih lembam sejak palu itu diketuk, tidak ada perubahan yang berarti dalam tiga minggu belakangan ini. Kuliah dan bimbingan skripsi masih terjebak di dunia maya, tawa dan canda terbatasi kabel fiber dan layar monitor. Jam di dinding masih berdetik dan jarumnya bergerak lebih pelan dari biasa.

Media sosial masih bergejolak, dipenuhi onak ketakutan dan ombak kecemasan. Ada amarah yang terlepaskan dari jemari mereka yang tak dapat menerima hilangnya kontrol atas lingkungan sekitar. Ada rangkaian kebohongan yang dialirkan bagai minyak tanah membesarkan api kekacauan. Ada amukan dedemit dan setan baru yang dilahirkan oleh benak dan imajinasi manusia, lebih keji dan lebih jahat dari mereka yang berasal dari alam barzah. Mungkin para makhluk halus itu pun menghilang sementara, bersembunyi takut terimbas dedemit yang dilahirkan dari jemari yang menari di atas papan kunci. Atau mereka hanya duduk menepi, menyaksikan anak cucu Adam dibakar api dari dalam diri sendiri.

Aku lelah.

Aku gelisah.

Dan aku mencoba berlari.
jauh ke masa lalu

Aku mencari lagu-lagu dari masa jauh sebelum orang tuaku dilahirkan. Musik-musik tua yang sederhana, lugu tanpa polesan teknologi. Melodi yang masih jujur. Denting yang perlahan membawaku kembali ke senjakala di atas lincak bambu. Teh hangat dalam cangkir kaleng hijau blirik dan semilir angin membawa pelan suara adzan dari kejauhan. Tetangga berteriak keras memanggil teman bermainku pulang, "BALII!! CANDIKALA!!!" Derit bambu di bawah pantatku ritmis. Semburat kuning dari bohlam rumah tetangga yang mulai menyala. Dari kiri, meruap bau kayu di tengah nyala api memeluk dasar ceret yang hangus dan hitam. Dari kanan, bau khas kambing dan rumput basah menyeruak.


Lima menit nostalgia menyelimutiku. Memori masa kecil menyelamatkan mentalku, menekuk tubuhku melingkar semu.

Lalu air mata meleleh bersama akhir lagu.

Air mata.

Akhir.

...
..
.